This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 16 April 2018

Tips Dua Hari Semalam Backpaker di Semarang

2017 November awal, saya dan kedua teman saya sudah berencana untuk melakukan travelling akhir tahun. Teman saya sebut saja F, baru saja pulang dari berlayar di Amerika. Satunya, sebut saja B, kuliah di Jakarta, eh Depok ya jangan ngaku-ngaku deh lu. Actually kami berempat tapi satu teman kami, cewek, masih sibuk sebagai hotelier. Yaudah lah kita tetap lanjut untuk travelling bertiga. Rencana awal kita mau ke Malang, but jadwal liburku belum pasti jadi memilih untuk ke kota sebelah dalam satu Provinsi. Semarang. Kota yang lumayan tak jauh dari Solo ini menjadi destinasi kami.

November akhir kami mulai prepare yang diperlukan untuk travelling di Semarang. Hotel, akomodasi, makan, dsb, dst, dll. Kami pantau harga hotel dari beberapa website dan aplikasi penyedia jasa hotel. Pilihan tertuju kepada Traveloka dan Pegi-pegi. Sortir lagi dan lagi. Bandingkan harga dan hotel yang tersedia. New Metro hotel yang akan kami tuju. Tunggu keputusan si cewek. Si cewek batal. Cek hotel, udah sold out semua kamar. Maklum. Kami mau ke sana tanggal 25-26 Desember. Cari hotel lain. Opsinya di tengah kota, Simpang Lima, atau Kota Tua. Dapatlah!!! 




-Omah Seroja-

Dari namanya kita pasti sudah menebak itu bukan hotel tapi hanya rumah singgah or guesthouse. Karena pilihannya hanya beberapa dan yang masuk kriteria akses mudah hingga kami pilih Omah Seroja. Untuk akses lumayan mudah dijangkau apalagi kita menggunakan transport online. Tempatnya yang strategis meskipun tidak di pinggir jalan langsung tapi mudah kok carinya. Dari Simpang Lima ke arah Transmart, Depan Transmart ada gang masuk dikit. Parkiran sih ga gede-gede amat ya. Wifi? Ada, tapi kami pilih di 3 Bed jadinya kamar kami di lantai 3. Suasana? Sepi dan Nyaman kok. Berasa di kosan elit. Bener? Iya! But, dari lantai 3 kelihatan view semarang yang berbukit dan amaze kalo malem. TV? Ada, lokalan. AC? Dingin Banget. Bathroom? Lumayan, lumayan tergenang kalo mandi kalian satu ember langsung. Jadinya kek kolam renang. Tapi sayangnya selimut di king bed cuma 1 jadi 1 nya kudu kedinginan atau kepanasan. Hahaha untung bukan gue.

lagi liat tv lokalan
ni dalemnya, comfort sih, abaikan kue hari jadi gue.
balkon lantai 3, abaikan lingkaran malaikat di atas kepala gue

Lanjut awal trip. 25 Desember hari raya gue jadi gue bisa berangkat ke semarang rada siangan. Jam 12 dari Terminal Tirtonadi. Kenapa naik bus? Akses ke semarang bisa naik kereta loh kak? Karena kereta Solo-Semarang cuma sekali doang beroperasinya, jam 5 pagi. Kalau naik pesawat ya kali Solo-Semarang Cuma satu tarikan napas udah nyampai. Kalau naik bis bisa jam berapa saja. *SMH 😠

Kondisi dalam bus

Kami dapet bus sekitar jam 1 dan ada 2 opsi bus yang kita bisa pilih. Kita coba masuk bus pertama, dirasa kurang cocok karena rada kumuh dan AC ga terlalu dingin. Move on. Ada bus Eka. Busnya bersih, kernet ramah, AC dingin, dan ga terlalu ugal-ugalan. Plus dapat air minum botol tanggung. Pepatah Malu bertanya sesat di jalan emang bener. Kalian jangan segan tanya tujuan kalian ke kernet bus. Jalan Macet, waktu  mundur. Gapapalah, maklum, tanggal merah, long holiday. Kami turun di depan Univ. Islam Sultan Agung dan melanjutkan perjalanan dengan BRT. Tujuan pertama kami Kota Lama Semarang. Kami habiskan sunset di sana.

-Kota Lama Semarang-

Sekitar pukul 4 sore kami habiskan dengan keliling wilayah Kota Lima Semarang. Biaya? Gratis.😚  Kalian akan merasakan suasana yang old. Banyak spot foto yang kalian bisa ambil. Kalau kurang bisa masuk ke museum Trick Art. Bayar tapi. Di samping Taman Sri Gunting ada pasar barang-barang antik yang bisa kalian beli untuk oleh-oleh. Kalian bisa menikmati makanan di sekitarnya. Jika dibandingkan dengan Kota Lama Jakarta memang lebih luas di Jakarta tapi di Semarang juga ga kalah seru kok. Bisa kalian coba. Setelah hampir jam 7 kami cari transport online untuk ke hotel.

gue lagi nunggu abang bakso

JANGAN LIHAT ATAS GUE, gaada apa-apanya

Kesampaian juga foto sama ikon kota lama


-Simpang Lima Semarang-

Setelah balik hotel, istirahat, makan, minum, lanjut ke Simpang Lima Semarang. Jalan kaki, deket kok.  Kalian bisa naik becak lampu untuk mengelilinginya. Bisa juga menikmati kuliner di warung-warung ang telah tertata rapi di sana. Atau bahkan Cuma sekedar killing time sambil tiduran melihat bintang di tengah-tengah lapangan Simpang Lima. Saya hanya menikmati sosis bakar dan minum es teh sambil menunggu bintang jatuh dan berharap adanya putri tidur dan bangun dihadapanku. Halu…bangun woy lu Cuma sobat mizqyn!!!Tahu Gimbal makanan yang wajib dicoba di semarang. Ini asli enak buangettt!!! Karena udah malem dan bingung cari makan di mana, sekitaran jalan menuju Transmart ada banyak pedagang kaki lima. 👅Saran:  gunakan bahasa Jawa dan sok kenal sok deket bar harganya murah👅. Belum  bisa bahasa Jawa? Belajar dikit-dikit dari sekarang. Haha maksa😆😤😳

gue gaada stok foto tapi gue tergoda sama istana ini yang isinya oleh-oleh semua.

-Tahu Gimbal dan Es Cong Lik-

Gue bungkus tuh tahu gimbalnya biar bisa sambil kelesotan di lantai kamar. Mampir Alfama*t beli minum dan tergoda spaghetti. Beli! Mati lu makan gue banyak...Lihat Gmaps ternyata depan warung ada es legendaris. Es Cong Lik namanya. Cong Lik ya. 💀C-O-N-G-L-I-K💀 Konon udah 30 tahunan berdiri. But, waktu mau coba tinggal Es Durian dan harus nunggu setengah jam. Pupus. Keburu capek. Someday ke sana kudu cobain ini es. Fotonya mana Kak? Biar kalian penasaran lihat dan cobain sendiri ya. Padal ini alibi gue karna ga sempet ngefotoin😁


-Leker Paimo-


Penasaran banget sama leker legendaris ini. Tapi mikir kalau dateng langung ke tempatnya bakalan wasting time banget. Kami memutuskan pesan dengan go-food. Jam 10 titik enol-enol tepat saat di hotel. Kami langsung order beberapa variasi leker. Abang go-food untuk ngewanti-wanti bakalan lama nih. Oke kita memutuskan untuk check out hotel sambil ke Kampung Pelangi pake Go-car. Tadi gue order leker buat di kirim ke Lawang Sewu karna gue yakin tuh bakal dua jam antrinya.

bukan pesenan gue doang ya...


-Kampung Pelangi-

Kampung Pelangi terletak di dekat Lawang Sewu. Gue mau bilang utara, selatan, barat, atau timur tapi bingung itu arah mana yang bener. Pokoknya deket situ lah. Di depan Kampung Sewu banyak yang jualan bunga semacam pasar kembang gitu. Ada Bus Keliling kota juga yang gratis tapi naiknya jam-jam tertentu. Masuknya gratis? Morfologi tanah di sini bagus jadi kek naik turun gitu lokasi rumahnya dan warna yang beragam. Bagus kok kalau foto dari bawah kalau dari atas menurut gue kurang greget aja. Kalian juga bisa mampir ke warung makan warga di atas-atas kampung. Itu baru jam 10 tapi panasnya kek lihat mantan lu gandengan ama temen lu sendiri. Ga terlalu lama kita di situ karna ga kuat panasnya broh. Kita lanjut nyemil bentar dan lanjut ke Lawang Sewu. Sebelum masuk kita tunggu dulu tuh leker belum nongol juga. Di maps ga gerak juga. Abangnya ketiduran kali ya? Eh engga. Udah jam 11.30an lekernya dateng. Bener kan kata gue hampir dua jam! Tapi sayang lekernya udah berkerut tapi tastenya masih enak kok. Rada ga nyesel.

mendung tak berarti hujan, pelangi tak berarti LGBT

-Lawang Sewu-

Antrinya panjang karna long weekend jadi jangan nyerobot. Masuk ke dalem. Its my first time. Ada yang lagi main akustik ala-ala jaman Belanda gitu jadi kerasa banget kesannya. Di situ kita bisa belajar gimana dulu perkeretaapian Indonesia. Ada beberapa lorong yang memang ditutup. Terlepas dari kisah horornya tapi bangunannya keren banget. Satu pertanyaan gue, coba hitung pintungya di sana ada seribu ga?💁 ga perlu panjang lebar gue cerita karena tempat ini udah famous. klean baca ndiri ye di sini https://id.wikipedia.org/wiki/Lawang_Sewu

gue sampe sini beneran, ga hoax!

-Grand Maerakaca-

Selesai dari Lawang Sewu kita bingung mau kemana. Pantai? Ga terlalu excited sih, kalau di Karimun ya gue jabanin. Akhirnya nemu destinasi lain. Grand Maerakaca. Tau tempatnya? Enggalah, tinggal pesen aja Go-car. Jadi, Grand Maerakaca itu semacam TMII tapi cuma daerah-daerah yang ada di Jawa Tengah. Ga perlu keliling dari daerah satu ke yang lain di Jawa Tengah hanya kunjungi tempat ini dalam beberapa jam pasti udah dikira keliling Jawa Tengah. Keliling tempat ini juga ga secapek di TMII jadi selow ae. Ada satu wahana baru yang ada di tempat ini. Hutan Bakau atau Hutan Mangrove. Ada jembatan kayu yang menghubungkan pulau-pulau kecil dan melewati tengah hutan bakau. Berasa sejuk dan asri buanget tempatnya. Kalian juga bisa menaiki perahu sampan tapi jangan takut karena kita tidak dilengkapi dengan jaket pelampung dan harus tetap menjaga keseimbangan. Gue kurang tau durasi menggunakan perahu tersebut berapa lama tapi dulu gue naiknya lama bingit. Kalau kalian pada takut mendayung perahu sendiri, kalian bisa naik perahu yang besar dengan kapasitas lebih banyak dengan tenaga mesin. Perahu itu akan mengitari hutan bakau sekitar tempat wisata. Kalau laper bisa makan di restoran yang ada di atas jembatan sungai hutan bakau. Ada beberapa gugusan pulau buatan yang menyerupai  pulau aslinya yang bisa kalian kunjungi di sini. Setelah bermain puas di tempat ini kalian bisa mampir ke kampung laut buat makan. Tapi gue cari yang khas dari Semarang, lihat di go-food muncullah Ayam Geprak Nori. Lokasinya sekitaran Puri Anjasmoro juga sih bisa di tempuh pakai Go-Car. Keunikan Ayam Geprak Nori dari sambalnya sih menurut gue, beda aja dari sambal yang lain. Khususnya ada madu di sambalnya.🙌

ye.... sampai karimun. padal cuma replika.

di atas perahu layar ing dino minggu dek pariwisata. malah nyanyi.
sendirian aja bang?

-Pulang-

Setelah selesai makan, kami menuju ke Terminal Sukun untuk pulang ke Solo. Gue nunggu bus yang sama, Eka. Tapi mbak Eka gak muncul-muncul dan waktu udah mulai petang. Naik bus lain. Ternyata zonk. Gue kudu pindah-pindah tempat duduk sampai 3x karna tempat duduknya ga nyaman. So, kudu liat cover juga nih kalau mau naik bus. Sampai Solo pukul 8 malem.Jadi itu pengalaman travelling gue dua hari semalam di Semarang yang bisa kalian jadiin referensi. Oh lupa. Pada ngebatin kan biaya yang gue keluarin? Nih gue kasih detailnya.


Bus (Pergi) : 30.000

Bus (Pulang):  35.000 Gatau kenapa lebih mahal. Kalo tahu bisa komen ya

Sewa Kamera : 60.000/ Orang, ini lensanya doang, gue bawa kameranya aja.

Hotel: 100.000/ orang, uang sisanya buat top up Go-Pay

BRT: 7.000, dari Universitas Islam Sultan Agung dan pulangnya dari halte apa gue lupa ke Terminal Sukun jadi sekai jalan 3.500

Leker : 12.000

Tiket Lawang Sewu : 10.000/orang

Tiket ke Grand Maerakaca : 10.000/orang

Naik Perahu : 10.000/orang

Tahu Gimbal : 15.000

Spaghetti : 7.500

Minum : 8.000

Ayam Geprak Nori : 19.000

Toilet: 2.000 ini toilet di Grand Maerakaca

Sosis + es teh : 15.000


Totalnya 350.500 kurang lebih. Bisa buat patokan kalian. Nih duit bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kehedonan kalian seperti apa.

Jangan Lupa Baca catatan blog gue ya lain ya. Thank you….😚😙


Senin, 05 Maret 2018

Program Pengembangan Kepedulian dan Kepeloporan Pemuda (PKKP) 2018 Provinsi Jawa Tengah #1 SELEKSI

Saya akan menceritakan bagaimana proses seleksi Program Pengembangan Kepedulian dan Kepeloporan Pemuda atau disingkat PKKP. Program ini dibentuk oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah. Dahulu awalnya bernama Sarjana Penggerak Pedesaan. Tahun 2015 menjadi PKKP. Informasi lebih lanjut tentang PKKP bisa dilihat di link berikut

Saya melihat informasi tentang rekruitmen ini dari media sosial, Instagram lebih tepatnya. Sebenarnya posisi saya sudah bekerja di salah satu English course terkenal di Solo. Tapi karena passion saya bekerja di lapangan dan melayani masyarakat maka saya memberanikan diri untuk apply lowongan ini. Calon peserta PKKP harus mendaftarkan diri dahulu ke website di atas. Jumlah peserta juga dibatasi yakni 1400 orang. Durasi pendaftaran hanya kurang lebih 5 hari. Itupun juga sudah termasuk pengiriman berkasnya. Bayangkan dengan waktu sesingkat itu kita harus berpacu dengan waktu dan aktivitas lain. Drama ini, lupakan.
Beruntungnya saya, ketika mendaftar di hari pertama dan malam hari sehingga website tidak error. Hari Jumat, saya langsung bergegas mengumpulkan berkas sebagai syarat apply  PKKP, khususnya ke kelurahan. Berkasnya apa saja? Bisa dilihat di tautan atas tadi ya. setelah semua terkumpul, Jumat sore saya langsung kirim ke Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Pariwisata Klaten. Saya kirim via pos karna saya masih bekerja jadi tidak memungkinkan untuk ke Klaten. Sambil harap-harap cemas saya menunggu pengumuman tanggal 6 Februari atau sekitar seminggu setelah penutupan pendaftaran dan pengiriman berkas. Hari Senin jam 16.00 saya mendapatkan SMS dari panitia PKKP wilayah Klaten jika salah satu berkas saya salah. Berkas yang diminta harusnya Surat Keterangan Belum Menikah dari Lurah bukan Surat Pernyataan dan dikumpulkan besok sebelum jam 12 siang. Karena waktu sudah mepet dengan jam tutup kelurahan, saya memutuskan mencarinya esok hari. Keesokan harinya, jam 7.00, kelurahan belum buka, saya ketok pintu rumah dinas Pak Lurah. Maaf ini kurang sopan, tapi Pak Lurah memahami keadaannya. Thank you so much Pak. Setelah dapat yang saya butuhkan langsung saya lari ke kantor pos. Maksudnya naik motor.7.30 langsung saya masukkan amplop coklat berisi berkas susulan untuk langsung dikirim ke Klaten jam sebelum jam 12 siang. 
Beberapa hari setelahnya, setibanya saya di rumah setelah pulang kantor. Saya melihat amplop coklat dengan  tulisan "DITOLAK" dimana saya tidak asing dengan amplop itu. Ternyata benar berkas saya ditolak PKKP. Otomatis saya melupakanmu wahai PKKP karena kau telah mempupuskan harapanku. Haiyah wafer...
Tapi, rencana Tuhan begitu ajib, eh ajaib, eh sama aja deh intinya Tuhan baik. Salah seorang teman kuliah saya memberi kabar bahwa saya lolos seleksi administrasi dan wajib mengikuti test tertulis dan interview di Pusdiklat BKK Semarang. Saya belum yakin saat itu, lah berkas aja dikembalikan masak iya lolos. Setelah dicek, ya benar lolos. Kurang lebih ada waktu seminggu untuk belajar materi test tulis. Kalo interview? Otodidak aja deh. Materi test tulis juga sudah dibocorkan oleh websitenya sendiri. Loh kok bisa? Iya karna ini ga masuk mata pelajaran. Materinya UU No. 40 tahun 2009, kemudian visi misi PKKP, dan teori PRA. 
Pada test tertulis dan intervie dibagi menjadi 3 gelombang, 1 gelombang per hari. 1 gelombang diikuti 350 orang dari beberapa kabupaten. Soal tertulis ada 30 soal dengan durasi 45 menit. Gampang? 
Setelah test tertulis dilanjutkan interview yang dibagi menjadi 10 kelompok dengan 1/2 orang interviewer. Pengalaman saya sih ditanyain tentang keaktifan kita di organisasi dan jiwa wirausaha kita. Kemudian apa yang akan dilakukan setelah penerjunan nantinya. Interviewnya kurang lebih 5 menit. Rasanya?

Pasrah....

Beberapa hari kemudian saya tak menyangka hasilnya saya lolos, jadi dari 1400 orang dengan hasil final 200 orang. Semua peserta yang lolos diwajibkan mengikuti pelatihan selama 3 hari di Semarang. Lalu apa yang saya dan tim kerjakan setelah penerjunan? Tunggu di blog saya selanjutnya...🙌🙋

Minggu, 27 Agustus 2017

Catatan Beach Camp #2 Pantai Sanglen

Privat Beach

Setelah saya menceritakan tentang pengalaman pertama saya beach camp saya akan menceritakan pengalaman kedua saya. Sebelumnya adalah Pantai Seruni, kali ini adalah Pantai Sanglen. Sebelum kami melakukan perjalanan ke pantai ini, kami harus melakukan riset di ointernet. Jangan sampai kejadian sebelumnya kembali terulang (Pantai Seruni memiliki lancadan untuk helikopter ternyata itu Pantai Seruni di Sulawesi bukan di Gunung Kidul) hahaha….

Pantai Sanglen terletak di kawasan Gunung Kidul juga, sama seperti Pantai Seruni. Hanya yang membedakan adalah pantai ini terletak di sebelah Pantai Watu Kodok. Ketika kalian melewati gerbang menuju pantai dari arah Pantai Baron ke arah Pantai Indrayanti, akan melihat tulisan Pantai Watu Kodok di sisi kanan jalan. Setelah kalian mengikutinya, akan melewati gapura bertuliskan Pantai Watu Kodok. Jika ke Pantai Watu Kodok belok ke kiri maka ke Pantai Sanglen lurus. Jalannya juga tidak terlalu jauh dan ekstrem. Untuk tempat parkir sama seperti Seruni yakni di atas tebing. Waktu itu saya dan team membawa dua mobil. Cukup kok tempat parkirnya. Bahkan waktu saya mau pulang ternyata di tempat parkir ada empat mobil. Waktu itu pantai lumayan masih sepi, tapi fasilitasnya sudah cukup lengkap. Karakteristik pantai ini adalah area pasir yang luas dan ditumbuhi banyak pohon pantai yang berakar. Tidak seperti Seruni yang memiliki batuan besar dan bisa kita panjat, di Pantai Sanglen banyak kita jumpai tanaman yang berbatang kuat jadi bisa kita pakai untuk tempat hammock. Pantai Sanglen juga lebih rindang dan teduh. Saat kami sampai pada jam maghrib, pantai masih terlihat sepi. Hanya ada tenda kami dan dua tenda lain. Nenek dan Kakek yang menjaga juga sudah dangat sepuh. Semoga masih sehat sampai sekarang ya Kek, Nek…. Beliau juga sangat ramah sekali, bahasa yang digunakan juga Bahasa Jawa Krama. Jadi yang ga bisa bahasa Jawa suruh translate temennya yang bisa. Kami juga sempet berbagi makanan. Jika kalian kehabisan makanan juga tak perlu khawatir karena di warung nenek menyediakan mie dan nasi kok. Kalau mau bikin api unggun juga bisa. Tapi bilang ke kakek rada keras ya volumenya soalnya pendengaran kakek sudah tidak dapat mendengar suara dengan jelas. Kakek juga sangat ramah jika ombak mulai besar, kami diingatkan. Selain itu, kakek juga memberikan saran tempat yang bisa didirikan tenda. Malam semakin larut dan kami mulai menyiapkan api untuk membuat makan. Sangat disayangkan kami tidak dapat menikmati sore di Pantai Sanglen karena terlalu malam sampai di tempat tersebut. Selain mendirikan tenda, kami juga mendirikan hammock. Cuaca di sini juga sangat cerah jadi bisa melihat bintang dengan jelas, tapi harus turun dulu di dekat bibir pantai. Sekitar jam sepuluh malam biasanya pantai akan pasang dan ombak akan naik dengan tingginya. Namun tak perlu khawatir lagi karena kakek dapat menenangkannya kok. Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi, saya tiduran di hammock dan tak sadar saya sudah tidur di atas hammock. Udara malam itu sangat dingin, sekitar jam setengah 4 saya memutuskan tidur di tenda.

depan kamar mandi hahaa



main bola sendirian karna ga ada pengunjung lain

liat, sepi kan

 







muka bantal karna baru bangun tidur dan penampakan tenda kami




Pagi pun tiba, saya lihat pantai masih sepi, dan tidak terlihat kerumunan orang bermain air. Saya merasakan seperti pantai pribadi. Saya lihat kiri, kanan, depan, belakang tak nampak sebatang hidung pun selain saya. Ombak di pantai ini juga besar pada pagi hari. Namun kakek tetap memberi saran pada kami untuk berenang di ujung pantai. Karena di ujung pantai terdapat banyak karang pemecah ombak jadi tidak terlalu berbahaya meskipun kita juga harus tetap waspada. Dari ujung pantai kami dapat melihat tebing-tebing yang menjulang tinggi tapi sayang tidak dapat dipanjat. Beberapa jam setelah kami bermain air, kami berbilas. Fasilitas kamar mandi yang disediakan juga hampir sama seperti Pantai Seruni, tetapi tidak lebih banyak dari Pantai Seruni. Jadi harap Antri! Tidak sabar, saya memutuskan untuk mandi di bawah shower, eh... pancuran air yang berasal dari mata air. Memang itu yang disarankan anak kakek penjaga. Hahaha

kek di hutan pinus kan

bukit samping pantai

my super team
Setelah beberapa saat beristirahat kami mulai membereskan tenda. Oiya kalo camping di pantai ini bayar juga ya. Tapi saya lupa berapa bayarnya. Waktu saya kesini sih murah ya karena belum ada campur tangan pemerintah untuk membangun pantai. Semua murni dari kakek, nenek, dan anak-anaknya, dan warga kampung. Nanti di cerita beach camp selanjutnya saya akan saya kasih tau biaya terbarunya. Kami beristirahat sejenak di warung atas tebing sambil menikmati satu buah kelapa muda. Saya juga di kasih tahu oleh ibu penjaga warung bahwa di tebing ada taman yang masih di bangun. Karena penasaran saya tengok. Benar saja pemandangan indah saya lihat dari atas sini. Samudera luas dapat terlihat dengan jelas dan memang taman masih di bangun. Pantai ini juga recommended bagi kalian yang akan melakukan beach camp. Kapan? Segerakan!!!

Catatan Beach Camp #1 Pantai Seruni

First Time

Pantai Seruni terletak di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta. Jika mau menempuh pantai ini (dulu) sangat susah. Pantai ini satu deret dengan Pantai Sepanjang. Setelah  memasuki arah pantai sepanjang, kalian harus  berbelok ke kiri untuk sampai ke Pantai Seruni karena jika lurus akan ke pantai sepanjang. Medan jalannya cukup ekstrem. Naik dan turun, kontur tanahnya juga masih bebatuan dan lumpur. Belum ada lampu penerangan juga jika malam hari. Jika jalan batuan menanjak kita harus melakukan kuda-kuda agar kendaraan kita tidak mundur. Saat itu saya dan tim memakai sepeda motor. Tidak ada masalah waktu berangkatnya. Kami berangkat dari Solo pukul 11 siang dan perjalanan kita tempuh selama 3 jam (karena sempat nyasar). Kami lewat di jalur Weru, bukan di jalan Prambanan.  

Sesampainya di sana, motor kami diparkirkan di ara parkir di atas tebing. Dari sini pemandangan Pantai Seruni sudah nampak. Pada saat itu memang belum banyak pedagang jadi pantainya like virgin belum terjamah banyak orang. Hanya beberapa kamar mandi saja yang sudah selesai dibangun, sisanya masih dalam tahap pembangunan. Pantai Seruni masih sedikit pepohonan tetapi beberapa pepohonan terlihat rimbun dan belakangnya tertutup tebing yang sangat tinggi. Memang dari Pantai Seruni tidak nampak sunrise karena jika ingin melihat sunrise harus melihatnya dari atas tebing. Di samping tebing juga ada bekas air terjun purba. Namun, sunset yang sangat indah bisa dinikmati di Pantai Seruni.

Ini ketika saya meloncat dari salah satu batu besar di bibir pantai



ini kolam alami karna karang yang berlubang

golden sunset




Kami sesegera mungkin membangun tenda karena sekitar jam 4 sore matahari sudah tidak terlalu terik di Pantai Seruni. Setelah tenda dibangun, kami bermain air. Pada jam setengah 5 air pantai sudah surut dan ombak tidak terlalu besar. Pantai ini memiliki karang-karang yang berlubang besar dan kita bisa berenang di dalamnya. Jadi, terlihat seperti kolam renang alami. Ini salah satu spot favorit di Pantai Seruni. Selain itu, kita juga dapat melihat golden sunset di Pantai Seruni. Tak perlu jauh-jauh untuk naik ke tebing atau bukit untuk melihat golden sunset karena kita bisa langsung melihatnya di depan mata sembari bermain dengan ombak. Ini salah satu pantai yang tidak pernah bisa saya lupakan. Momen terbaik saya dapat melihat sunset di pantai. Kami sangat puas menghabiskan sore hari di pantai ini. Hingga tak sadar waktu sudah hampir malam. Kami pun berbilas di kamar mandi yang sudah disediakan. Air yang ada di kamar mandi tersebut merupakan air payau jadi bukan seutuhnya air tawar. Tapi tak menjadi masalah untuk kita mandi dan tidak ada efeknya kok.
Malam pun tiba, kami mulai membuat perapian untuk membuat nasi dan bebakaran. Tenang saja, kalian tak perlu khawatir kehabisan kayu karena bapaknya yang menunggu pantai menyediakan banyak kayu bakar. Bapak tersebut juga sangat ramah kepada pengunjung. Setiap kali ombak besar kami selalu diberi nasihat dan beliau juga dapat menenangkan ombak tersebut. Untuk seikat tali kayu bakar dijual sekitar sepuluh ribu. Jumlah kayu tersebut sangat banyak kok. Bayarnya akan diakumulasikan dengan biaya sewa tempat dan MCK ya. Berhubung kami sudah membawa jagung, sosis, dan bebakaran yang lain serta arang jadi kami lebih menghemat biaya. Cuaca malam hari juga sangat mendukung yaknoi cerah tanpa awan. Kita bisa melihat bintang dengan mata secara langsung. Terkadang kita juga melihat bintang yang jatuh. Jangan lupa meminta permohonan agar balikan dengan mantan. Eh…. Maksudnya mendapatkan pengganti mantan. Kami habiskan malam sambil bernyanyi dengan gitar. Coba deh kalian rasakan malam yang sama seperti saya rasakan. It’s the best moment in my life dan saya sangat rindu momen ini terjadi lagi di hidup saya. Pada malam hari banyak juga pengunjung yang akan camping di sini. Jadi jangan heran ketika banyak sorot lampu dari atas tebing dan mulai rame pada malam hari. Saya tidur jam 2 pagi karena saking nyamannya tempat tersebut untuk menghabiskan malam.

Kitapun bisa bebakaran di samping pantai

Esok paginya, saya sudah melihat banyak orang dan lebih banyak tenda. Mereka sudah banyak yang bermain air. Padahal ombak di pagi hari sangat besar. Saya mencoba mendaki tebing-tebing kecil. Dan mencari keberadaan air terjun purba. Saya hanya melihatnya dari jauh karena ombak sudah terlalu besar. Ya tapi namanya juga manusia pasti ngikutin yang lain. Akhirnya kami bermain ombak. Saking besarnya ombak, teman saya yang paling kurus (Anonimnya) sampai terseret ombak. Ini juga salah satu momen terbaik saya karena dari kejadian terseret ombak kita dapat saling menolong. Pantai ini memiliki kontur pasir pantai putih namun berkarang dan kadang pecahan karangnya membuat kita luka. Tapi dari luka itu kita dapat semacam tanda kenang-kenangan. Haahaha…….

pinggir pantai


Jadi, kesimpulan dari cerita saya adalah Pantai Seruni merupakan pantai yang  recommended untuk camping. Mungkin akses dan fasilitas di Pantai Seruni juga sudah bagus karena waktu daya ke sana (dulu) sedang dalam proses pembangunan. Ini juga 
menurut saya beach camp paling berkesan. Untuk temen-temen yang baru akan merencakan beach camp segera saja. Karena menurut saya camping di Gunung atau di pantai sama-sama berkesan tapi lebih simpel di pantai. Tunggu kelanjutan cerita saya di catatan beach camp yang lain.



Minggu, 20 Agustus 2017

Catatan Pendaki #3 Gunung Andong

Solo, Juli 2016, Pagi, kami berempat (Saya, Erwin, Ayas, dan Intan) memutuskan untuk melakukan pendakian ke Gunung Andong, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ya meskipun gunung ini tingginya hanya 1726 MDPL tapi cukup memuaskan bagi saya. Alasan kami memilih gunung ini untuk di daki karena teman cewek kami yang satu ini berbadan kurus  (anonimnya) dan pertama kali baginya untuk mendaki. Sekitar pukul 3 sore kami berangkat menuju ke gunung ini. Dari solo kami menuju ke arah boyolali kemudian salatiga dan ambil ke arah magelang. Kami harus berjuang dahulu dengan melawan bus arah semarang. Ketika perjalanan kami juga melewati objek wisata Kopeng. Akses ke gunung ini juga cukup mudah. Sekitar 3 ,5 jam perjalanan kami sampai di pos pendakian ke gunung andong. Kami lihat di pos tidak ada pengunjung (Iyalah ngapain nungguin pos), tapi beberapa saat setelah kami istirahat barulah ada banyak pendaki yang akan mendaki Gunung Andong. Ada satu pasang yang dari Solo akan mendaki bersama kami setelah sebelumnya melakukan perbincangan. Setelah jam 7 malam kami pun mulai pendakian. Kenapa mendaki pada malam hari? Karena kami akan melihat lampu-lampu di bawah dan ingin melihat sunrise juga.

Pada awal perjalanan kami melewati kampung sekitar dan ladang penduduk, barulah setelah melewati gapura jalan akan menanjak. Saat pendakian mulai menanjak itu dapat kita jumpai banyak pohon pinus yang tumbuh di sekitarnya. Kontur tanah yang kita pijak untuk menuju ke pos satu masih terbilang aman. Kalian tak perlu khawatir jika hendak beristirahat, pasalnya pada setiap tikungan banyak tempat duduk kayu yang disediakan. Pos satu Gunung Andong ini ditandai dengan tempat peristirahatan yang cukup nyaman karena berupa gubuk-gubuk. Kami menyempatkan beristirahat di pos ini untuk menghela napas. Tak berapa lama kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke pos dua. Jarak pos satu ke pos dua hanya 20 menit.

Sesampainya kami di pos dua kami dapat melihat jejeran pohon pinus yang berjejer rapi. Masih sama seperti di pos satu, pada pos dua ini juga terdapat tempat duduk seperti untuk kita dapat beristirahat sejenak. Tanpa berlama-lama kami pun segera melanjutkan pendakian kami ke Puncak Jiwa. Saya rasa perjalanan ke Puncak Jiwa ini sangat menakjubkan dengan trek yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pada perjalanan tersebut kami bertemu satu keluarga yang akan turun ke basecamp setelah sampai di puncak. Saya cukup takjub dengan perjuangan anaknya karena baru berumur sepuluh tahun sudah sering mendaki gunung. Dalam perjalanan ini juga kita akan melewati tepian punggung gunung dengan jalan setapak dan di samping kirinya adalah jurang. Namun ada yang terlihat memukau yakni kita dapat melihat pemandangan pemukiman penduduk di situ secara langsung dari ketinggian. Kita juga dapat menemukan sumber mata air yang sangat menyegarkan. Tidak lupa saya sempatkan untuk mengisi botol kemasan air minum kami yang telah habis tadi. Setelah beberapa saat kami mendaki terlihatlah sebuah bangunan seperti joglo namun itu adalah makam. Mungkin itu makam bisa menjadi makan tertinggi. Namun kalian tak perlu khawatir karena kalian tak perlu melewati makam itu. Jalurnya adalah ke kiri untuk ke makam dan ke kanan untuk ke puncak andong. Kita akan melihat sebuah warung dari jalur pendakian. Tak usah heran, karena di atas puncak jiwa ini memang ada warung. Jadi, kalau kalian tidak bawa perbekalan yang cukup kalian bisa jajan di warung tersebut. Setelah sampai di Puncak Jiwa kami mencari tempat yang strategis untuk mendirikan tenda tapi karena tempat tersebut kurang asyik yaaaa kami memutuskan untuk naik lagi di Puncak Andong. Jarak dari Puncak Jiwa ke Puncak Andong hanya  menit saja kok. Udara dingin sudah sangat terasa di Puncak Andong. Ternyata sudah banyak pendaki yang mendirikan tenda di atas Puncak Andong ini. Kami pun mencari tempat strategis dan segera mendirikan tenda. Tetangga tenda kami bahkan ada yang sedang membakan dua ekor ayam. Pemandangan dari Puncak Andong tersebut sangat indah, kami bisa melihat kota Salatiga dan Magelang secara langsung dari ketinggian. Beruntungnya kami, cuaca saat itu sedang cerah. Kami akhirnya memutuskan untuk menghabiskan malam dengan berbincang-bincang dengan tetangga tenda.

Keesokan paginya, sebelum sang surya menampakkan dirinya, kami antusia untuk melihat sunrise yang katanya terlihat indah dari atas Gunung Andong.  Kami, para pendaki, menunggu detik-detik datangnya sang surya. Kami dapat melihat dari depan kami terlihat Gunung Merbabu dan terlihat mengintip Gunung Merapi. Terlihat juga Gunung Lawu di arah timur dan dari situlah sang surya muncul. Di belakang kami dapat melihat Gunung Ungaran, serta Sindoro dan Sumbing. Sambil menyaksikan sunrise kami membuat makanan dan kopi. Such a pleasure for me… Setelah sang surya sudah berada di atas kami pun segera berkemas untuk kembali ke kampung halaman. Karena semakin lama di atas puncak udaranya semakin panas. Tak perlu waktu yang lama untuk sampai di basecamp. Tidak sampai satu jam.

di belakangnya itu adalah Puncak Jiwa (yang ada bangunannya) dan Gunung Sindoro-Sumbing

ga afdol kalo ga foto di penanda Puncak Gunung Andong

pemandangan dari belakang tenda
penampakan tenda kami

my team my family

Gunung Sindoro Sumbing Terlihat di Sini

Ggunung Lawu


Sekian cerita dari saya tentang pendakian di Gunung Andong. Bagi para pendaki pemula bisa mencoba mendaki di gunung ini. Medan yang ditempuh dan kontur tanah juga tidak terlalu susah untuk didaki para pemula. 

Rabu, 02 Agustus 2017

Catatan Pendaki #2 Gunung Batu

Mulai Ketagihan

Jakarta, Februari 2016, sore hari setelah kedatanganku dari malaysia untuk sebuah misi kemanusiaan, saya berkabar dengan teman saya yang berasal dari Solo yang saat itu sedang menyelesaikan studinya di salah satu kampus swasta terbaik di Jakarta. Saya memberitahunya bahwa saya sudah berada di Indonesia, tepatnya di rumah saudara saya di daerah Jagakarsa. Teman saya, sebut saja Bayu sangat antusias dengan kedatangan saya, ya khususnya karna saya menjanjikan akan memberikannya oleh-oleh dan beberapa uang ringgir (ini bener kan bro?). Kami melakukan perjanjian melalui pesan singkat untuk nongkrong bersama. Saat itu pula teman saya memang sudah merencanakan untuk melakukan pendakian dengan teman-teman kampusnya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengajak saya melakukan pendakian pada esok harinya. Di saat saya merasakan jetlag, keesokan harinya saya harus mendaki (bisa bayangkan?!). Awalnya saya memang menolak karena kondisi bandan yang kurang memungkinkan, tapi karena saya penasaran (kapan lagi bisa mendaki di daerah ini) akhirnya saya memutuskan untuk ikut dengan teman saya untuk mendaki gunung.


Kesokan harinya, sekitar pukul delapan, saya berangkat dari stasiun Universitas Pancasila ke Universitas Indonesia untuk bertemu dengan kawan saya. Setelah sampai di stasiun UI saya diajak ke kontrakan Bayu dan bertemu dengan teman-temannya. Ada 2 orang lelaki, sebut saja Fauzi dan Aldo, serta 1 wanita yang cukup friendly, sebut saja Safiah. Kami berlima akan berangkat ke Gunung Batu, daerah Joggol, Kabupaten Bogor. Tingginya sih hanya 875 MDPL. Aksesnya bisa dilihat di https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Batu_Jonggol Kami menyiapkan perbekalan seadanya, dan ternyata saya lupa ternyata saya menggunakan sepatu cats dan celana jeans. Namun kata mereka itu tidak terlalu menjadi masalah karena gunungnya tidak terlalu tinggi. Tepat pukul sembilan kami meluncur dari Depok ke Jonggol dengan perjalanan tempuh sekitar tiga jam. Saat perjalanan badan saya memang tidak terasa fit karena terlalu lelah tapi semangat saya berkobar sehingga menghilangkan rasa lelah yang saya derita. Jalan yang kami lalui seperti jalan biasanya hingga sampai ke pedesaan yang jalannya berkelok dan naik turun tapi tidak terlau ekstrim seperti jalan menuju ke Gunung Merbabu (lihat cerita saya di http://catatanyotam.blogspot.co.id/2017/07/catatan-pendaki-1-gunung-merbabu.html ). Dari kejauhan nampak berjajar perbukitan dengan tanda panah arah Gunung Batu 1, 2, 3, tapi saya kurang tau ada berapa Gunung Batu di sini yang saya tahu saya hanya menuju ke Gunung Batu 1. Akses untuk menuju Gunung Batu 1 tidak terlalu susah hingga sampai di parkiran. Kami harus berjalan sekitar 1 kilometer untuk menuju ke gerbang pendakian dari parkiran. Jalannya saat itu dipenuhi bebatuan dan tidak rata, ada pabrik pengerukan tanah juga di sebelah kiri jalan dan kolam pemancingan di sebelah kanan jalan. Struktur tanahnya juga naik turun. Sesampai di gerbang pendakian ternyata kami kaget, banyak sepeda motor yang ada di situ. Tak disangka ternyata parkir terlalu jauh dari pintu gerbang padahal ada tempat parkir di depan pintu gerbang (maklum baru pertama). Kami diminta membayar retribusi kebersihan dan karcis masuk dengan total Rp 7.000,- (Murah? Banget!)Awal masuk gerbang kami langsung disuguhkan dengan jalan menanjak dan struktur pasir seperti tanah liat yang lumayan keras tapi halus dan banyak pepohonan yang dapat menjadi penopang kita ketika mendaki. Lumayan jauh tanjakannya, dan sesekali ada tanah datar juga sebagai tempat peristirahatan. Jarak ke pos satu sangat dekat kurang lebih 25 menit dengan ditandai pohon besar dan tempat duduk dari kayu. Pada pos satu ini kita sudah bisa melihat pemandangan sekitar yang lumayan luas dengan titik kemiringan 45 derajat. Kami (terpaksa) break karena si cewek butuh asupan udara dan minuman. Setelah beberapa saat kami beristirahat, kami lanjutkan perjalanan kami dari sini sudah mulai terasa titik penanjakan yang lumayan berbatu dan Safiah merasa tidak kuat tapi kami sebisa mungkin memberikan motivasi untuknya hingga sampai di pos 2. Tapi tanjakan menuju pos 2 tidak seekstrim di Gunung Merbabu, hanya tanjakan ini sangat berbatu (Iyalah namanya juga Gunung Batu) jadi pintar-pintarnya kita memilih pijakan. Setelah sampai di pos 2. Kami bertemu dengan banyak orang, khususnya eneng-eneng geulis pisan yang ternyata mereka mendaki dengan wedges (Oh My Ghost….) dengan make up yang lumayan menggoda, mungkin mereka foto model (entahlah hanya mereka dan pacarnya yang tau). Untuk sampai ke puncak kami harus mendaki dengan tali yang telah terikat di sekitaran tebing. Talinya memang cukup kuat karena dari tambang dan tertutup kain tebal. Sampai di puncak tak diperlukan waktu yang lama, sudah ada beberapa tenda yang didirikan di situ. Tapi yang membuat saya kurang excited adalah jalannya yang sangat kecil dengan pemandangan kiri kanan adalah jurang. Saat kami di puncak juga cuaca kurang mendukung karena mendung dan berkabut tebal. Tak kalah herannya adalah banyaknya serangga yang beterbangan dan sesekali menabrak bagian tubuh kami. Saat di puncak juga kami melihat banyak orang yang berpakaian tak selayaknya sebagai pendaki, mereka malah lebih tampak seperti ke mall (Seperti cewek-cewek geulis yang kami temui tadi. Di puncak juga terdapat dua spot foto yang menandakan pendaki telah sampai ke puncak. Terdapat juga memorial yang memandakan bahwa ada seornag pendaki yang tewas terjatuh di atas gunung dan dapat menjadi peringatan bagi kita para pendaki untuk tetap waspada ketika mendaki gunung. Tidak berapa lama setelah kami mengabadikan foto terjadilah hujan yang menyuruh bahwa kami harus sebera turun dari puncak. Hujannya lumayan lebat untungnya kami sudah menyiapkan perlengkapan ketika terjadi hujan. Tak butuh waktu lama untuk sampai di bawah lagi, kurang dari 20 menit kami sudah di bawah. Hujan pun reda, di saat perjalanan ke parkiran kami putuskan untuk istirahat sejenak di dekat kolam ikan dan membuat mie rebus. Ini ciri khas pendaki, kebersamaan. Setelah selesai kami pun bergegas pulang kembali ke Depok.

Kesan saya mendaki gunung ini adalah ketika melihat memorial yang berada di puncak yang mengingatkan pada kita bahwa kita tidak boleh terlalu lebay dalam mengabadikan gambar yang perlu diperhatikan juga faktor keselamatan.

Saya akan menulis kembali cerita saya ketika mendaki Gunung ketiga, tunggu ya….

Oiya lupa, ini foto-foto saya ketika menginjakkan kaki di Gunung Batu